Belajar: Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Itu yang Bagaimana?

Belajar: Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Itu yang Bagaimana? oleh Martin Karakabu guru Bahasa Indonesia SMTK Bethel Jakarta dan SMA Kanaan Jakarta
Martin Karakabu admin blog ini saat berkomunikasi dengan siswa
Sobat muda hari ini kita akan belajar tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setelah pelajaran ini berakhir, kaka guru berharap sobat semua paham;
1.   Bahasa Indonesia yang benar itu seperti apa? dan
2.   Bahasa Indonesia yang baik itu seperti apa?.

Bahasa Indonesia yang Benar

Bahasa Indonesia yang benar apabila sesuai dengan konteks, atau situasi yang kita dihadapi.

Contoh:

Si Martin adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di salah satu Universitas di kota. Suatu saat yang bersangkutan pergi berlibur ke desa, dan bertemu dengan orang-orang desa; yang kemampuan Bahasa Indonesianya sangat kurang. 

Berikut komunikasi si Martin dengan orang desa.

Si Martin :

Selamat siang saudara-saudari yang saya hormati, hari kita akan membahas fenomena-fenomena sosial yang terjadi di desa ini…..

Sobat muda, berbicara kepada masyarakat desa yang kurang menguasai Bahasa Indonesia dengan baik; apa yang disampaikan si Martin di atas itu salah.

Kesalahannya terletak pada cara menggunakan Bahasa Indonesia.

Kaka guru yang benar seperti apa?

Bahasa Indonesia yang benar apabila sesuai dengan konteks. Maksudnya si pembicara (Martin) paham dengan siapa dia berbicara dan dalam situasi apa?

Ilustrasi di atas, kaka guru temukan 3 kondisi sebagai berikut:
1. Orang desa.
2. Kemampuan Bahasa Indonesia kurang.
3. Kondisinya tidak formal.

Komunikasi yang baik sesuai dengan konteks di atas maka seharusnya unsur etnografi dimasukan pada saat berkomunikasi dengan warga.

Contoh:

Punten bapak dan ibu, hari kita akan musyawarahkan secara bersama – sama, mengenai keadaan yang terjadi di desa ini.

Sobat muda, ini yang benar.

Mengapa benar?

Benar karena sesuai dengan konteks dan si pembicara tahu dengan siapa yang bersangkutan berbicara.
1.   Konteksnya desa,
2.   Lawan bicaranya adalah orang-orang desa yang tidak memahami Bahasa Indonesia secara baik.

Contoh di atas menjadi sangat komunikatif karena masyarakat merasa disapa dan dekat (secara emosional).

Faktor yang membuat dekat adalah kata punten (etnografi budaya). Selain itu, si pembicara tahu bahwa lawan bicaranya adalah orang-orang desa yang kemampuan Bahasa Indonesianya kurang; sehingga si pembicara menggunakan pilihan kata yang sederhana, seperti mengenai keadaan yang terjadi.
1.   Pilihan kata “keadaan yang terjadi” lebih bisa dipahami daripada menggunakan Bahasa Indonesia baku;
2.   Seperti “fenomena-fenomena sosial yang terjadi”.

Jadi sobat muda sekalian, Bahasa Indonesia dikatakan benar apabila;
1.   Si pembicara tahu dengan siapa dia berbicara dan dalam situasi apa.
2.   Setelah tahu maka menyesuaikan dengan lawan bicara dan kondisi yang ada.

Itulah yang disebut penggunaan Bahasa Indonesia yang benar.

Benar karena si pembicara tahu dengan siapa yang bersangkutan berbicara dan dalam situasi apa.

Contoh lain.

1.   Karakabu adalah putra kesayangan Bupati Detunglikong, Kabupaten Maumere, Flores NTT.
2.   Sangat dimanja oleh bapaknya (Bupati Detunglikong).
3.   Suatu saat si Karakabu pergi ke kantor bupati (menemui ayahnya).
4.   Kondisi ayahnya sedang rapat dengan SKPD yang lain.

Sobat muda ilustasi dari nomor 1 sampai 4, penggunaan Bahasa Indonesia dikatakan benar, apabila si Karakabu dan Bupati Detunglikong (ayahnya Karakabu) berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia baku.

Mengapa karena situasinya formal dan ayahnya (Karakabu) adalah seorang bupati yang sedang berdinas.

Beda kalau situasinya lagi liburan bersama keluarga di tempat rekreasi.
Jika si Karakabu bicara seperti ini,

“maaf bapak bupati, bisakah anda membelikan saya kue itu”.

Ini penggunaan Bahasa Indonesia yang salah; selain tidak komunikatif, juga memberi kesan ‘aneh’; walaupun secara lingguistik (ilmu bahasa) apa yang disampaikan benar.

Kesimpulan

Bahasa Indonesia dikatakan benar apabila disesuaikan dengan konteks; dengan siapa kita berbicara dan dalam situasi apa.

Bahasa Indonesia yang Baik

Bahasa Indonesia dikatakan baik apabila sesuai dengan kaidah baku Bahasa Indonesia. Ini biasanya digunakan dalam ragam tulis formal, seperti makalah, skrips, tesis, atau disertase.
1.   Dalam satu paragraf harus mengandung 5 – 7 kalimat.
2.   Setiap paragraf harus mengandung satu kalimat utama.
3.   Harus patuh pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
4.   Mengawali paragraf harus 7 ketukan ke dalam, dan lain sebagainya.

Sebagai refrensi tambahan sobat muda bisa baca postingan kaka guru yang berjudul;
1.   Contoh penggunaan huruf kapital dan huruf miring.2.   Jenis-jenis paragraf beserta contoh. 

Bagaimana dengan penulisan di blog kaka guru?

Penulisan di blog merupakan perpaduan antara penggunaan Bahasa Indonesia yang benar (ragam lisan) dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik pada ragam tulis.
Maksudnya ialah sobat muda menulis di blog jangan seperti saat kalian menulis skripsi, tetapi disesuaikan dengan pembacamu.
Contoh blog kaka guru (blog ini) isinya tentang pelajaran Bahasa Indonesia.

Seharusnya menggunakan Bahasa Indonesia baku karena membahas seputar pelajaranan Bahasa Indonesia.

Itu idealnya,

pemahaman seperti itu hadir karena guru Bahasa Indonesia di sekolah selalu katakana “hay gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar anak-anak”.

Setelah itu tidak ada penjelasan lebih lanjut, baik itu seperti apa dan contohnya bagaimana?

Akhirnya siswa – siswi menulis di blog dengan gaya seperti ini.

Saudara dan saudari sekalian, berikut ini adalah langkah-langkah mematikan computer. Langkah pertama berdiri dari kursi atau tempat duduk saudara, Langkah kedua saudara menekan tombol of di computer. Langkah ketiga keluarkan kabel cas yang menembel pada dinding atau arus listrik yang disedikan. Demikian saudara dan saudari sekalian 3 langkah mematikan computer.

Di atas adalah contoh tulisan yang diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah.
1.   Paragraf harus tujuh ketukan.
2.   Satu paragraf harus minimal mengandung 5 kalimat, dengan komposisi 1 kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.
3.   Setiap akhir kalimat harus ada tanda titik, dan lain-lain.

Sobat semua yang dikatakan guru Bahasa Indonesia itu benar; jika ditinjau dari ilmu lingguistik. Namun di sisi yang lain perlu sobat muda pahami juga bahwa bahasa adalah alat komunikasi.
Komunikasi tidak akan dipahami jika cara menyampaikan tidak disesuai dengan kemampuan kongnitif maupun psikis dari lawan bicara.
Bisa juga dipahami tetapi lawan bicara tidak akan tertarik karena yang disampaikan terasa kaku dan membingungkan.Oleh karena itu, dengan memahami target,
lawan bicara,
atau pun pembaca (misalnya pembaca blog) maka gaya penulisan pun harus disesuaikan.

Sebagai contoh.

Blog ini, target pembacanya adalah pelajar SMP dan SMA. Apabila kaka guru menggunakan gaya penulisan seperti ini maka dapat dipastikan siswa tidak akan betah membaca karena bosan.

Saudara dan saudari sekalian, berikut ini adalah langkah-langkah mematikan computer. Langkah pertama berdiri dari kursi atau tempat duduk saudara, Langkah kedua saudara menekan tombol of di computer. Langkah ketiga keluarkan kabel cas yang menembel pada dinding atau arus listrik yang disedikan. Demikian saudara dan saudari sekalian 3 langkah mematikan computer.

Supaya tidak bosan kaka guru ganti seperti ini.  

Sobat muda, berikut ini 3 langkah praktis mematikan komputer.
1.    Berdiri dan berjalan menuju komputer.
2.   Tekan tombol of pada komputer.
3.   Cabut cas dan selesai.
Demikian 3 cara mudah mematikan komputer.

Mana yang lebih muda dipahami?


Percuma menyiapkan materi bagus tetapi pembaca tidak bisa mempraktikan karena tidak mengerti dengan apa yang ditulis.

Apakah kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil jika hal seperti itu terjadi?

Jadi intinya penulisan di blog adalah perpaduan antara penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
1.   Baik apabila tulisan kita dipahami oleh pembaca dan yang bersangkutan bisa melaksanakannya.
2.   Benar apabila si blogger bisa menganalisis pembacanya siapa, kemudian menggemas gaya sesuai selera pembaca.

Demikian penjelasan tentang cara menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di sekolah.

Penutup

1.   Bahasa Indonesia dikatakan benar apabila sesuai dengan konteks, dengan siapa kita berbicara dan dalam situasi apa.
2.   Bahasa Indonesia dikatakan baik apabila sesuai dengan EYD dalam Bahasa Indonesia.
3.   Penulisan di blog, idealnya menyesuaikan antara penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Supaya tulisan tidak membosankan dan bisa dipahami oleh pembaca.
Bahasa adalah alat komunikasi, komunikasi tidak bisa dikatakan berhasil apabila apa yang disampaikan (secara lisan dan tulisan) membosankan, kaku, dan tidak bisa dipahami oleh pembaca.

Jakarta, 29 Desember 2018

Martin Karakabu         

0 Response to "Belajar: Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Itu yang Bagaimana?"

Posting Komentar

Iklan Kotak Pencarian Google

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Kaka Guru Martin

Iklan Bawah Artikel