Mari kita Belajar Tentang Skala Prioritas dari Stephanie Kirey Rombot Siswi SMTK Bethel Jakarta

Mari kita Belajar Tentang Skala Prioritas dari Stephanie Kirey Rombot Siswi SMTK Bethel Jakarta
Stephanie Kirey Rombot Siswi SMTK Bethel Jakarta
Tatapan yang shadu membuat nyaman setiap mata yang memandang. Tinggi semampai merupakan cirinya yang lain. Dia adalah Stephanie Kirey Rombot, siswi kelas X SMTK Bethel Jakarta.

Mengenalnya lebih lanjut sobat akan menemukan kehebohan sendiri pada remaja paroh baya asal Mandao ini.

Itu biasa, seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Namun bukan berarti cewek cantik yang bercita-cita jadi pendeta ini melupakan belajar, sama sekali tidak. Justru semangat belajarnya sangat luar biasa. 

Pernah kaka guru mempersiapkan mereka untuk mengikuti lomba debat di Kwik Kian Gie Jakarta Utara. Dialah salah peserta debat dari SMTK Bethel Jakarta yang paling semangat menurut kaka guru.
1.   “Pak kapan kita latihan lagi”
2.   “Ayolah pak kita latihan, lombanya sudah dekat pak”
3.   “Pak bagaimana penampilan saya tadi?”, “menurut bapak kekurangan saya ada di bagian mana”, dan seterusnya…

Hal-hal di ataslah yang kaka guru temukan selama membimbing remaja putri 15 tahun ini dalam club debat SMTK Bethel Jakarta.

Sobat muda sekalian, sepertinya sangat biasa apa yang dilakukan sobat kita yang satu ini. Namun melalui sobat kita yang satu ini, kita bisa belajar satu hal penting.

Tugas seorang pelajar ya belajar

Ini menjadi penting untuk dibahas karena berbagai pengaruh yang datang dari luar. Entah itu postif maupun negatif, seperti “memaksa” seorang pelajar untuk melupakan tugas pokoknya sebagai pelajar yakni belajar.
1.   Tugas seorang ayah menafkahi dan melindungi keluarganya.
2.   Tugas seorang ibu mengatur rumah tangga.
3.   Tugas seorang guru mengajar, dan;
4.   Tugas seorang pelajar ya belajar.

Jangan sampai atas nama membantu orang tua pelajar melupakan tugas pokoknya, jangan sampai atas nama pelayanan seorang siswa melupakan hal yang utama.

Semua yang dilakukan pada hakekatnya adalah belajar.
1.   Melayani di gereja itu baik,
2.   membantu orang tua itu bagus.

Semuanya adalah proses belajar, tetapi ingat jangan pernah melupakan tugas pokok seorang pelajar yaitu belajar secara formal dulu di sekolah.

Jadi poinnya di sini ialah menentukan skala prioritas dengan mengacu pada tugas pokok masing-masing.

Perlu diingat bahwa yang kaka guru maksudkan di sini, bukan berarti tidak boleh bantu orang tua, atau tidak boleh melayani di gereja, melainkan menentukan skala prioritas dengan mengacu pada tugas pokoknya masing-masing.

Melalui hal sederhana yang ditunjukan oleh Stephanie Kirey Rombot, siswi kelas X SMTK Bethel Jakarta ini; mari kita belajar untuk menentukan skala prioritas dengan mengacu pada peran kita masing-masing.
1.   Sebagai orang tua maka lakukan perannya sebagai orang tua.
2.   Sebagai guru maka lakukan perannya sebagai guru, dan
3.   Sebagai pelajar maka lakukan perannya sebagai pelajar.

Intinya di sini adalah menentukan skala prioritas.
1.   Ada yang penting dan mendesak.
2.   Ada yang penting tetapi tidak mendesak.
3.   Ada yang tidak penting dan tidak mendesak.

Marilah kita belajar untuk menentukan hal yang utama. Terima kasih Stephanie hadirmu telah memberi inspirasi kepada guru kampung seperti saya.

Hal sederhana yang dilakukan telah memberi inspirasi pada dia, mereka, dan kaka guru untuk melihat sisi lain dari seorang pelajar.

Dalam setiap skala prioritas tentu harus ada yang dikorbankan, itulah konsekuensi dari memilih.

Jakarta, 6 Januari 2019

Martin Karakabu
Guru Kampung

Jangan lupa baca juga:

0 Response to "Mari kita Belajar Tentang Skala Prioritas dari Stephanie Kirey Rombot Siswi SMTK Bethel Jakarta "

Posting Komentar

Iklan Kotak Pencarian Google

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Kaka Guru Martin

Iklan Bawah Artikel