Jumat, 15 Maret 2019

Catatan Guru Kampung yang Mencari Kerja di Jakarta Sampai Menemukan Kata Bahagia di Sekolah Ini

Postingan ini hanyalah curhatan tentang suka duka mencari kerja sebagai guru di Jakarta.

Mohon maaf jika tidak berfaedah karena postingan ini hanya diperuntungan sebagai kenangan perjalanan seorang guru kampung.

Oktober 2013 lalu saya diterima sebagai guru di SMA Kanaan Jakarta. 

Ini sesuatu yang istimewa karena seorang  guru kampung yang mengabdi di rimba raya Papua tiba-tiba berdiri di tengah-tengah murid dan guru hebat di SMA Kanaan Jakarta.

Mengajar anak-anak kota metropolitan yang cerdas, dan bertemu dengan rekan guru yang kemampuan akademik di atas saya.
Catatan Guru Kampung yang Mencari Kerja di Jakarta Sampai Menemukan Kata Bahagia di Sekolah Ini
Siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta/kelas X B
Gaji yang lumayan dan dicintai murid, siapa si yang tidak ingin mendapatkan semua hal istimewa itu?
Orang yang waras pasti akan menghabiskan hidupnya untuk menerima berkat yang istimewa itu dengan mengabdi sebagai guru.

Hal tersebut tidak berlaku untuk saya, dan mungkin saya termasuk kategori orang yang tidak waras.

28 Juni 2018 saya putuskan untuk  mengundurkan diri dan berpisah dengan murid-murid yang sangat saya cintai.
Jujur ini keputusan yang sangat sulit, terutama berpisah dengan anak murid yang telah memberi saya banyak inspirasi.

Namun namanya hidup selalu ada pilihan. Ada siang ada malam, ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Setelah memutuskan mengundurkan diri dari SMA Kanaan dan berpisah dengan murid-murid yang tercinta, langkah selanjutnya saya mencari kerja sebagai guru lagi.

Banyak sekolah yang saya lamar, dari Jakarta Utara sampai Barat, Jakarta Selatan sampai Jakarta Timur, praktis ada 43 surat lamaran saya sebarkan.
Ada yang panggil tetapi gaji yang ditawarkan lebih rendah dari gaji OB. “ngapain gue sekolah cape-cape kalau profesionalitas saya dihargai segitu” batin saya saat itu.

Ada juga sekolah yang tawarkan saya gajinya gila-gilaan, “standarnya lebih tinggi dari Kanaan dua kali lipat malah”.

Tetapi saya tolak saat mengukur diri dan melihat target; karena bagi saya mengajar bukan hanya soal gaji yang besar tetapi tentang kepuasan batin. Ada juga sekolah yang belum melihat kemampuan saya sudah menolak duluan, hanya karena saya lulusan universitas di Papua.
Ada juga, bahkan lebih parah lagi ada sekolah yang melihat dari golongan mana calon guru ini.

Baca Juga




Banyak sekali cerita pahit manis dengan tajuk ‘guru mencari kerja’ selama sebulan ini.

Hari ini (Senin, 23/7/2018) saya benar-benar bahagia dan bersyukur sekali sama Tuhan karena memberiku kesempatan mengabdikan semua ilmu dan pengetahuan saya di SMTK Bethel Jakarta.

Sebuah sekolah yang bernafaskan iman, pelayanan, dan kasih.

Soal gaji dua kali lipat lebih kecil dari sekolah tempat saya mengajar sebelumnya. Namun di sini (SMTK Bethel Jakarta) saya merasa menemukan bahagia, (gue bangat); karena mengajar orang yang membutuhakn ajaran, mendidik orang yang mau didik.

Biacara soal uang semua membutuhkan uang, bahkan orang meninggal sekalipun butuh duit.
Tetapi bicara tentang kata bahagia dan idealisme, itu perasaan terdalam yang tidak semua orang paham.

Setiap tempat memiliki cerita, setiap cerita memiliki latar.

Postingan ini hanyalah ekspresi bahagia dari seorang guru kampung yang merasa menemukan tempat menyalurkan idealisme yang terpendam.

Baca:


Hari Pertama Masuk Kerja di SMA Bethel Jakarta Menghadirkan Banyak Kesan dan Cerita

Pesannya adalah

Jangan pernah ragu meninggalkan sona nyaman jika bahagia tak kunjung datang. Kata orang bahagia kita yang ciptakan, tetapi bagaimana mungkin bisa tercipta jika ide tidak selaras.

Bicara soal uang, orang meninggalpun butuh uang, tetapi uang tidak bisa membeli sebuah kata yang bernama bahagia.

Jika engkau percaya dan melangkah bersama Tuhan maka berkat akan selalu hadir dan terus mengalir dalam hidupmu.


Jakarta, 23 Juli 2018

Martin Karakabu

Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis