Minggu, 03 Maret 2019

Catatan Seorang Wali Kelas, Bagian Pertama dari Refleksi Panjang di SMA Kanaan Jakarta

Sebaik apapun teori dari ahli pendidikan, tidak akan membuat guru memahami siswa dengan lebih baik, sebelum mengalaminya sendiri di depan kelas.
Mengapa saya katakan demikian, karena yang dihadapi oleh guru adalah siswa yang memiliki pemikiran, rasa, dan penilaian tersendiri terhadap sosok guru yang dijumpai setiap hari di sekolah.  
Kata yang tepat untuk merangkumnya adalah “kenali lebih dekat maka engkau akan tahu lebih banyak”.  
Ini adalah catatan saya selama menjadi wali kelas X IPS 2 di SMA Kanaan Jakarta (bagian pertama).
Kelas X IPS 2 merupakan kelas yang sangat aktif dalam belajar, kata teman-teman guru. Namun ada juga beberapa guru yang mengatakan kelas ini pendiam, suka tidur, dan sejuta hal negatif lainnya.

Ya biasalah, setiap orang memiliki pemikiran tersendiri.

Apakah ada yang salah?;

Saya pikir tidak sama sekali.
Selama masih hidup di bumi yang sama, setiap pemikiran adalah benar menurut kontruksi berpikir masing-masing orang.
Demikian halnya dengan saya, sebagai seorang guru muda yang ditempah pada medan yang sulit Indonesia bagian Timur sana, dan dibentuk dalam pendidikan seminari yang cukup disiplin; maka di medan pengabdian (baca:sekolah) konsep itu yang saya pegang. Disiplin adalah suatu keharusan. Meskipun saya sendiri harus banyak belajar tentang kata disiplin itu.

Mari baca lebih lanjut.


Awal tahun 2016 kebetulan saya dipercayakan oleh pimpinan SMA Kanaan Jakarta untuk menjadi wali kelas.

“Wah kayaknya seru ne jadi wali kelas”, pikirku saat itu.

Singkat kata, liburan sekolah selesai.

“Bapak ibu semua, yang wali kelas X, silahkan berkenalan dengan siswa-siswi yang menjadi perwaliannya, sambil menyiapkan perangkat kelas”.

Itu kata yang paling saya ingat dari kepala sekolah SMA Kristen Kanaan Jakarta, ibu Indri Astuti, saat pertemuan hari pertama masuk sekolah.


Pengalaman di SMA Kanaan Jakarta yang Paling Sulit untuk Dilupakan.


Pukul 06.45 WIB, saya melangkah dengan pasti, menelusuri kordor sekolah dan bergegas masuk kelas untuk berkenalan.

Saat itu semangat saya berlipat ganda karena naik pangkat, menjadi wali kelas.

Karena terlalu bersemangat sehingga nalar jadi lemah dan dampaknya saya salah masuk kelas.

Ternyata saya wali kelas X IPS 2, sedangkan kelas yang saya datangi adalah kelas X IPS 1.

Kesialan yang memalukan ini karena saya sudah memperkenalkan diri sebagai wali kelas X IPS 1.

“Wah parah bangat si bapak”.

Mungkin kalau Hellen (muridku), yang sudah mengenal gaya saya mendidik, pasti akan berkata demikian; karena memang itu gaya celetukan khasnya dalam obrolan ringan kami.  
***

“Maaf pak ini kelas saya, bapak wali kelas X 2, kelasnya ada di sebelah” kata ibu Onni, rekan saya di SMA Kanaan Jakarta.

“Ah.................” ,

Hanya itu sambil berlalu karena tidak ingin menahan malu lebih lama lagi di kelas itu. Sambil diiringi senyum simpul siswa sayapun berlalu menuju kelas X IPS 2.

Kuncup


Kuncup”,  julukan untuk komunitas X IPS 2.

Ada persaudaraan,

Ada kebersamaan yang berpadu dengan salah paham dan pertengkaran kecil alah remaja; kemudian digabungkan dengan marah-marah dan ‘ide gila’ yang sengaja diciptakan wali kelasnya, maka muncullah Kuncup.
Catatan Seorang Wali Kelas, Bagian Pertama dari Refleksi Panjang di SMA Kanaan Jakarta
Simbol Kuncup
Apa itu kuncup, saya sendiripun sebagai wali kelasnya, jujur tidak mengerti makna dibalik istilah generasi Z itu.

Jika mereka (baca: siswa kelas X 2) bahagia maka biarlah hal itu terjadi, setidaknya itulah pikirku kalut berbalur senyum tanda tak mengerti.

Singkat kata, singkat cerita, marah-marah, mengoceh, dan berbagi ekspresi yang tak mengenakan, nyaris tiap hari saya pertontonkan pada mereka selama kurang lebih 3 bulan masa perkenalan kami.

Mulai dari masalah piket kelas, soal tugas sekolah, masalah baju keluar, hingga kasus terlambat menjadi topik saya untuk memarahi mereka.
Catatan Seorang Wali Kelas, Bagian Pertama dari Refleksi Panjang di SMA Kanaan Jakarta
Kebersamaan saya bersama sisa saat ulang tahun anggota kelas
Namun satu hal yang pasti, setiap kali masuk kelas X 2, selalu menghadirkan ide-ide kreatif, pemikiran yang lebih segar dalam berkarya karena kelas X IPS 2 adalah sumber inspirasi saya.
Bersambung@
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis