Senin, 04 Maret 2019

Catatan Waktu SMA oleh Jessica Oktaviany Siswi Kelas XI IPA SMA Kristen Kanaan Jakarta

Catatan Waktu SMA oleh Jessica Oktaviany Siswi Kelas XI IPA SMA Kristen Kanaan Jakarta
Jessica Oktaviany Siswi Kelas XI IPA SMA Kristen Kanaan Jakarta
bersama guru pendamping dan rekan yang lainnya
Pukul 05.00 WIB pagi yang indah, rutinitas kota terasa lengah, udara segarpun menjadi hadiah yang teramat istimewa.

Sunggu hari yang membahagiakan, bukan karena saya berhasil bagun sepagi itu ataupun tidak belajar secara formal saat itu, melainkan kegiatan di luar sekolah bertajuk field trip.

Hari itu hari Jumat, 12 Mei 2017 waktu yang sangat berharga bagiku. Entalah energi positif apa yang  memberiku semangat lebih saat itu, namun yang pasti hari itu sekitar 72 murid SMA Kristen Kanaan belajar di luar sekolah.

Belajar mengenal lebih dekat kota Jakarta dan beragam kisah di baliknya. Manusia dan budaya menjadi target dan fokus kami dalam menelusuri Jakarta saat itu.

Pukul 06.15 WIB kutinggalkan rumah dan melangkah dengan pasti menuju SMA Kristen Kanaan Jakarta.

Pukul 06.35 saya sampai di sekolah. Koridor kelas 10 sudah ramai denganmurid-murid yang berkumpul untuk membicarakan destinasi mereka.

Pukul 06.45 pun tiba. Terdengar jelas bunyi nyaring di telingaku. Kami masuk kelas dan berdoa bersama-sama melalui renungan pagi. Pukul 07.00, guru-guru pendamping mulai mencari kelompok yang sudah dibagikan sejak jauh-jauh hari.

Saya, Jiario, Agnes, Stephanie, dan Merlyn satu kelompok. Guru pendamping kami ibu Onni.

Kali Jodoh Jakarta

Sebelum pergi, kami berunding tentang kendaraan untuk pergi ke destinasi pertama kami, yaitu Kali Jodo. Kami sangat bingung karena hampir tidak ada kendaraan yang melewati Kali Jodo.

Akhirnya, kami berjalan menuju Golden Truly. Kami naik busway. Di busway, saya hanya diam menikmati suasana dan jalan-jalan yang dilewati.
Ternyata naik busway itu enak, nyaman, sejuk, dan tidak terlalu macet. Rasanya saya ingin naik busway terus, karena naik busway sama seperti naik mobil tapi versi besar. 
Sesampainya di halte, kami harus jalan lagi karena masih sedikit jauh untuk ke Kali Jodo. Jadi kami memutuskan untuk pergi naik grab. Saat perjalanan menuju Kali Jodo dengan grab, salah satu dari kami, yaitu Jiario melihat ada seorang yang ada di dekat kali. Setelah di lihat-lihat, dia membuka celananya dan ingin membuang fesesnya. Ya, kami tertawa terbahak-bahak.
“Dan saya menyadari, bahwa di Kota Jakarta, masih saja ada orang yang primitif, yang membuang fesesnya di kali, bukan di toilet / wc umum. Mungkin karena rumahnya yang sangat kecil dan masih di sekitar bantaran kali.”
Sesampainya di Kali Jodo, kami melihat Kali Jodo yang sekarang dengan perasaan terkesan.
Ya, kami sangat terkesan dengan pemerintah yang sekarang yang dapat merubah Jakarta ini menjadi layak disebut Ibukota Negara. Kami melihat adanya skatepark, gravity karya anak bangsa, bahkan di pinggir jalannya ada perpustakaan berjalan.
“Kita tidak kalah dengan laur negeri”.

Dengar-dengar,  dulu Kali Jodo adalah tempat prostitusi, tempat yang sangat kumuh, tempat yang tidak berguna jika berada di Jakarta. Tapi sekarang, setelah saya melihat skatepark, banyak anak muda yang latihan skateboard dan ada juga yang naik sepeda.

Bahkan kami juga melihat ada sekumpulan anak muda yang sedang latihan skateboard. Dan dilihat-lihat, mungkin mereka akan mengadakan lomba.

“Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa Kali Jodo dapat menjadi sarana tempat persaingan anak muda yang setidaknya dapat meningkatkan semangat dan karya anak bangsa zaman sekarang. Kini, tempat itu sangat berguna dari kalangan atas sampai kalangan bawah, dari umur lansia sampai umur balita.”

Selain itu, kami juga melihat ada makanan-makanan kuliner di sekitarnya.

Kami tidak mencoba makanan itu karena saat itu masih pagi dan kami belum lapar. Tapi kami sempat masuk ke perpustakaan berjalan. Di sana banyak buku-buku yang disediakan, khususnya buku-buku pelajaran yang dibutuhkan dari SD, SMP, sampai SMA/SMK.

Saya melihat beberapa buku dan membacanya sekilas. Menurut saya, perpustakaan itu sangat menarik dan sangat membantu ketika kita bosan entah harus kemana, maka kita bisa membacanya sejenak.

Museum Fatahilla Jakarta

Setelah dari Kali Jodo, kami melanjutkan perjalanan menuju Museum Fatahilla dengan naik angkot. Kami harus berjalan keluar dari kawasan Kali Jodo lalu kami menemukan angkot ke arah Kota Tua. Beda rasanya naik angkot dengan naik busway.

Walaupun keringatan, panas, namun kami tetap menikmati perjalanan.
Sesampainya di sana, saya mulai emosi karena saat itu sangat panas. Terkadang saya marah, tidak sabaran, kesal, dan sejuta rasa lain yang sulit buat dibahasakan. Tapi, renungan saya sendiri, harusnya saya bisa meredakan emosi dalam keadaan apapun. Karena bagaimanapun, kami tetap satu kelompok.
Lalu hati saya sudah mulai sejuk saat apa yang kuinginkan tercapai. Ya, kami naik city tour untuk pergi ke Balai Kota. Kami sangat senang karena kami baru pertama kalinya merasakan naik city tour. Apalagi, kami naik dua kali. Yang pertama karena kami ingin jalan-jalan saja naik city tour.

Lagi pula hanya sebentar. Lalu karena dari stasiun Juanda kami harus ke daerah Monas untuk sampai ke Balai Kota, maka kami naik lagi city tour dan turun di halte Monas.

Lalu kami jalan dan mencari Balai Kota. Karena terlihat masih jauh, jadi kami makan dahulu di pinggir jalan daerah Menteng.
“Dari situ, saya belajar ternyata di warung dekat pinggir jalan itu ada makanan ikan yang sangat enak. Tidak kalah dengan masakan restoran seafood.”
Karena waktu sudah tidak cukup lagi untuk ke Balai Kota, maka kami sepakat untuk pergi ke Panti Asuhan Daskor yang berada di seberang tempat makan tadi.

Panti Asuhan

Menurut saya, mungkin tidak ada kelompok lain yang pergi ke panti asuhan. Jadi, kelompok kami sangat special karena tidak hanya mengetahui sejarah tentang Indonesia tapi tetap bisa bersosialisasi dengan anak-anak panti asuhan. Tak disangka, anak-anak panti asuhan itu sangat pintar, bahkan mereka bisa bersekolah di sekolah Penabur, mereka sangat rajin.
“Yang terkesan bagi saya adalah saat saya melihat ada dua anak kecil yang berebutan piring karena ingin cuci piring. Artinya, dari kecil saja mereka sudah ingin belajar mandiri. Sedangkan anak zaman sekarang hanya tahu tentang games-games dan malas sekali untuk membantu orang tua dalam pekerjaan rumah tangga.”
Seusai dari Panti Asuhan Daskor, kami menuju Galeri Nasional. Lagi-lagi karena tidak ada kendaraan yang lewat Galeri Nasional, maka kami pergi naik grablagi.

Sesampainya di sana, kami memasuki Gedung Galeri Nasional yang pertama, lalu kami melihat ada gambar-gambar 3D dari Proyektor. Dan ada juga dari keramik-keramik serta gambar-gambar abstrak lainnya. Yang terkesan dari Gedung Galeri Nasional ini adalah sangat saya memasuki Gedung Galeri Nasional yang kedua, di situ terlihat banyak sekali gambar- gambar yang sangat bagus, dari yang sederhana sampai gambar yang sulit, dari beberapa bahasa, gambar-gambar timbul.

Entah karena memang saya tidak mengerti tentang seni rupa atau bagaimana, tapi menurut saya itu sangat bagus. Saya sangat-sangat terkesan.

Setelah dari Galeri Nasional kami pulang dengan naik grab  lagi. Saya sangat terkesan dengan field trip ini.
“Menurut saya, program ini sangat berguna dan bermanfaat.”
Akhirnya kami sampai di sekolah dengan selamat dan pulang ke rumah masing-masing. ***(Jessica Octaviany / X MIA SMA Kanaan Jakarta)
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis