Sabtu, 16 Maret 2019

Esensi Beribadah yang Dilupakan oleh GABRIEL JEREMY MOSES Siswa kelas XI SMTK Bethel Jakarta

Esensi Beribadah yang Dilupakan oleh GABRIEL JEREMY MOSES / Siswa kelas XI SMTK Bethel Jakarta
Gambar ilustrasi Katedral Jakarta/dok pribadi
Hari ini banyak sekali orang yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang Kristen tetapi menjalankan atau mengikuti ibadah tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan.

Padahal definisi Kristen itu sendiri adalah “Pengikut Kristus”. Tetapi sayangnya orang yang mengaku bahwa dirinya Kristen atau Pengikut Kristus tersebut sama sekali tidak menunjukan sikap Kristus apalagi dalam hal beribadah.

Semestinya jika seseorang mengaku dalam hati dan mengucapkan lewat mulut bahwa dia seorang Kristen, haruslah ia menunjukan karakter Kristus dalam hal beribadah.
Beribadah pada zaman Kristus merupakan ibadah yang “melayani” dan “semuanya hanya untuk Allah”.
Semestinya orang-orang yang mengaku bahwa dirinya Kristen haruslah beribadah dengan mengutamakan “Antitesis”; artinya orang Kristen dipisahkan dari pengaruh budaya berhala dan haruslah terlihat dari cara orang itu beribadah.
Beribadah juga harus memperlihatkan sifat yang takut akan Tuhan, yaitu menghormati-Nya dan otomatis tidak memikirkan hal duniawi selain Tuhan saat beribadah.

Semua hal di atas inilah yang membuat jemaat mula - mula diledek dengan kata “Kristen” yang artinya “Pengikut Kristus”.

Mereka melakukan hal yang menunjukan sikap Kristus pada waktu itu.

Idealnya dalam hal beribadah semuanya bisa dilihat dalam diri para rasul dan jemat gereja perdana. Sayangnya, di zaman modern ini semua hal - hal ideal yang sudah dilakukan oleh jemaat mula - mula menjadi pudar apalagi dalam hal BERIBADAH.
Mengapa demikian?
Karena di zaman modern sekarang setiap orang sudah memiliki dasar pemikiran yang egois, mereka berpikir bahwa esensi beribadah yang baik adalah ketika suatu ibadah memberikan pertunjukan spektakuler, seperti lagu lagu yang enak didengar, Pengkotbah-pengkotbah yang “memanjakan” telinga jemaat.

Mereka bahkan bepikir jika sebuah gereja memiliki jemaat yang banyak hingga ribuan artinya itu adalah gereja yang baik, padahal semua itu hanya dilakukan atas dasar ego masing - masing pribadi yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang Kristen.


Permasalahan di atas menurut penulis sangat buruk.

Baca:


Perkembangan Teknologi Berbanding Terbalik dengan Ajaran Kristen


Solusi yang penulis sarankan:



1.   Tumbuhkan kembali rasa takut akan Tuhan; yang berarti hormat, merendah, dan tunduk kepada-Nya. Dan juga pelajari kelakuan atau sifat-sifat jemaat mula-mula dalam hal beribadah. Karena merekalah yang benar-benar sama dengan sifat Kristus sampai akhirnya orang-orang percaya diejek dengan kata “KRISTEN”. Jika orang-orang yang mengaku Kristen pada zaman ini sudah diejek “KRISTEN” artinya kita sudah mendapat esensi yang benar dalam beribadah.

2.   Jangan mendewakan teknologi saat beribadah, melainkan gunakan teknologi agar komunikasi dengan Tuhan Yesus semakin mesra.

Sekian opini dari saya mengenai esensi beribadah yang terlupakan.  (GABRIEL JEREMY MOSES / Siswa kelas XI SMTK Bethel Jakarta).

Baca juga karya siswa-siswi SMTK Bethel Jakarta yang lainnya:







Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis