Jumat, 01 Maret 2019

Guru Bangsa Begini Cara Mengajari siswa Menulis Opini, Dilengkapi dengan sharing pengalaman Saat Mengajarkan Materi ini di SMTK Bethel Jakarta

Sobat muda dan guru bangsa yang saya hormati, pertama-tama postingan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui siapapun, atau merasa paling benar sehingga mengajari guru-guru hebat di luar sana. Tidak sama sekali, saya hanya ingin berbagi.
Menulis menjadi penting karena di sekolah-sekolah (yang memakai kurikulum 2013), diharuskan untuk menerapkan apa yang disebut literasi sekolah.

Ini tugas guru Bahasa Indonesia, oleh karena itu, melalui postingan ini saya ingin berbagi dengan sahabat guru Bahasa Indonesia di mana saja mengabdi tentang cara menulis opini.

Kita mulai ya….

Cara Menulis Opini yang Mengubah Cara Pandang Pembaca

Opini secara harafia tidak ada di dalam materi bahasa Indonesia, tetapi sub bahasan tentang fakta dan opini ada dalam pelajaran Bahasa Inonesia (KTSP).
Opini bisa dimaknai sebagai pendapat pribadi terhadap suatu persoalan atau masalah.

Agar opini bisa menjadi fakta dan mempengaruhi cara pandang orang lain maka simak strukturnya berikut.
1.   Masalah
2.   Idealnya
3.   Fakta
4.   Permasalahan
5.   Solusi
Sekarang saya coba jelaskan satu persatu.

Masalah

Persoalan sosial yang menurut pembaca seharusnya seperti ini tetapi kenyataan berbeda. Itu masalah!

Contohnya:

1.   Masalah guru Bahasa Indonesia.
2.   Masalah PSK.

Idealnya

Ideal atau sesuatu yang seharusnya terjadi.

Contoh:

Masalah guru Bahasa Indonesia.


Seharusnya guru Bahasa Indonesia banyak yang menulis dan bisa berkarya. Entah itu di blog, PTK, atau menulis buku. Mengapa karena mereka mengajarkan 4 keterampilan berbahasa, salah satunya yakni keterampilan menulis.

Melalui parameter itu maka seharusnya guru Bahasa Indonesia bisa menulis karena tahu teorinya tetapi kenyataannya tidak demikian.
Jadi yang saya maksudkan dengan idealnya ialah sesuatu yang seharusnya terjadi.

PSK atau Pekerja Seks Komersial.

Idealnya sebagai manusia yang beragama tidak menjadi pekerja seks komersial karena setiap agama melarang tindakan tersebut.

Fakta

Bagian ini anda berikan contoh-contoh kongkrit, supaya opini anda menjadi fakta dan mempengaruhi cara pandang pembaca. Kuatkan opini anda dengan kajian-kajian ilmiah.

Contoh 

Guru adalah orang yang perkataan maupun tindakannya harus menjadi contoh bagi para murid di sekolah.
Hal ini sesuai dengan semboyan Tut Wuri Handayani. Artinya dari belakang seorang guru harus memberi dorongan dan arahan.

Ing Madya Mangun Karsa, maksudnya adalah di tengah atau diantara murid, guru harus ‘menciptakan’ ide atau prakarsa.


Ing Ngarsa sung tulada, bermakna seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh kongkrit apa yang disampaikan.

Menyoal tentang contoh kongkrit, idealnya guru Bahasa Indonesia harus bisa menulis karena keterampilan menulis adalah salah satu materi yang diajarkan di sekolah oleh guru Bahasa Indonesia.

Jika guru Bahasa Indonesia tidak menulis itu artinya bukan guru karena profesi profesionalitas guru sesuai dengan konsep kurikulum 2013 sampai pada ranah mencipta. Hal ini terkandung dalam UU No 3 tahun 2017 tentang sistem pembukuan yang diharapkan mendorong literasi masyarakat. Guru Bahasa Indonesia adalah bagian dari masyarakat. Jadi adakah alasan untuk guru Bahasa Indonesia tidak menulis?

Kedua peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 23 tahun 2013 tentang gerakan literasi sekolah. Kebijakan yang mewajibkan seluruh anak-anak sekolah untuk membaca dan menulis setiap hari.

Jika guru, apalagi guru Bahasa Indonesia tidak menulis; dimanakah letak makna kata Ing Ngarsa sung tulada?

Apakah guru Bahasa Indonesia harus kopi paste tulisan para blogger untuk memberi contoh kepada siswa?
***
Rekan guru dan dan sidang pembaca yang terhormat. Demikian yang saya maksudkan dengan fakta.

Artinya di bagian ini sahabat semua mempengaruhi opini pembaca dengan fakta dan pertanyaan retoris. Tujuannya untuk mengajak orang menulis.

1.   UU No 3 tahun 2017 adalah fakta,
2.   sedangkan pertanyaan “dimanakah letak makna kata Ing Ngarsa sung tulada?. Itu adalah pertanyaan retoris karena sebelumnya (awal) saya katakan guru adalah teladan.
3.   Kemudian di bagian akhir saya hadirkan lagi pertanyaan retoris, Apakah guru Bahasa Indonesia harus kopi paste tulisan para blogger untuk memberi contoh kepada siswa?

Itu adalah doktrin untuk mengubah pola pikir. Tujuannya sama, namun fokusnya lebih kepada sugesti. 

Contoh pernyataannya lihat di bawah ini.


Guru itu profesi terhormat, kopi paste sama dengan mencuri, dan mencuri itu dosa untuk agama mana pun.
Guru bangsa yang saya hormati, mohon maaf pernyataan di atas tidak dimaksudkan untuk menghakimi, ini hanya persoalan gaya dalam menyampaikan maksud.
***
Contoh tentang PSK saya tidak lanjutkan karena nanti tulisan ini terlalu panjang. Saya usahakan topik tersebut diulas sebagi contoh pada postingan berikutnya.

Baiklah kita lanjutkan pada bagian keempat yakni permasalahan

Permasalahan

Bagian inilah opini yang sebenarnya. Misalnya anda katakan jika guru tidak menulis kita akan menjadi negara yang tidak maju. Itu bukan opini tetapi pernyataan.

Opininya adalah karena guru berada pada garda paling depan dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin murid akan maju jika gurunya pun tidak bisa melakukan apa yang diajarkan. 

Bukankah nasib suatu kaum bisa berubah hanya karena pendidikan? Jadi apabila guru tidak menulis maka masalah yang terjadi sebagai berikut:
1.   Indonesia tidak akan maju dari negara lain.
2.   Julukan negara berkembang akan abadi

Dan seterusnya.....(sebutkan sendiri sesuai dengan opini anda masing-masing).
***
Orang cerdas adalah mereka yang beropini sambil memberi solusi. Oleh karena itu, silahkan baca lebih lanjut penjelasan berikut ini.


Solusi

Solusi adalah bagian akhir dari seluruh rangkaian penulisan opini. Bagian ini anda menawarkan solusi kepada pemangku kepentingan melalui tulisan.

Jadi jangan hanya beropini tanpa solusi. Itu hanya akan membuat masalah. Bisa-bisa anda dianggap benci pemerintah, sebarkan berita bohong dan lain sebagainya.

Contoh solusinya seperti ini.


Untuk menumbuhkan kesadaran berliterasi bagi guru, terutama guru Bahasa Indonesia adalah tantangan terberat pemerintah. Namun setiap masalah tentu ada solusi. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah dan seluruh jajaran terkait masalah guru dan kegiatan menulis.

Bagi Guru Bahasa Indonesia

1.   Wajibkan untuk menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) jika ingin naik jenjang (PNS) atau naik gaji bagi guru swasta.
2.   Balai Bahasa wajibkan guru Bahasa Indonesia yang sudah terakreditasi untuk memiliki blog dan mengadakan lomba blog bagi guru di akhir semester.

Bagi Guru Indonesia

1.   Wajibkan mempunyai blog sebagai syarat profesional profesi guru era baru.
2.   Dinas pendidikan wajib mengadakan lomba blog bagi guru.

“......dan seterusnya silahkan ditulis sendiri. Ini hanya contoh

Demikian tentang solusi dalam menulis opini. Tentunya harus dijelaskan, teknisnya bagaimana dan caranya seperti apa, jika ingin menulis opini yang baik. Apa yang saya sebutkan di atas hanyalah contoh.

Silakan kembangkan sendiri.
***
Secara keseluruhan contoh – contoh di atas, gambaran singkatnya sebagai berikut:


Tanpa Literasi Indonesia akan ‘Mati’: Ini Tugas Guru Bahasa Indonesia

Guru adalah orang yang perkataan maupun tindakannya harus menjadi contoh bagi para murid di sekolah. Hal ini sesuai dengan semboyan Tut Wuri Handayani. Artinya dari belakang seorang guru harus memberi dorongan dan arahan. 

Ing Madya Mangun Karsa, maksudnya di tengah atau diantara murid, guru harus ‘menciptakan’ ide atau prakarsa. 

Ing Ngarsa sung tulada, bermakna seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh kongkrit atas apa yang disampaikan.
Menyoal tentang contoh kongkrit, seharusnya guru Bahasa Indonesia bisa menulis; karena keterampilan menulis adalah salah satu, dari empat keterampilan dasar yang diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia di sekolah. 

Jika guru Bahasa Indonesia tidak menulis itu artinya bukan guru; karena profesi profesionalitas guru sesuai dengan konsep kurikulum 2013 sampai pada ranah mencipta. 

Hal ini terkandung dalam UU No 3 tahun 2017 tentang sistem pembukuan; yang diharapkan mendorong literasi masyarakat. 

Guru Bahasa Indonesia adalah bagian dari masyarakat. 
Jadi adakah alasan untuk tidak menulis?

Kedua peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 23 tahun 2013 tentang  gerakan literasi sekolah. Kebijakan yang mewajibkan seluruh anak-anak sekolah untuk membaca dan menulis setiap hari.

Di sinilah letak peran guru sebagai soko guru. 


Jika guru Bahasa Indonesia tidak menulis dimanakah letak makna kata Ing Ngarsa sung tulada?

Apakah guru Bahasa Indonesia harus kopi paste tulisan para blogger untuk memberi contoh teks kepada siswa?
***
Bicara tentang guru, siswa, dan pendidikan, artinya kita sedang membahas keberlanjutan sebuah bangsa.

Maksudnya apa?

Guru adalah garda terdepan dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin murid akan maju jika guru saja tidak bisa melakukan apa yang diajarkan. 

Hanya dengan pendidikan yang berkualitaslah nasib suatu kaum bisa berubah. Jadi apabila guru tidak menulis maka masalah yang terjadi selanjutnya ada dua.

Pertama Indonesia tidak akan lebih maju dari negara lain. Kedua, julukan negara berkembang akan abadi.

Penulis percaya bahwa setiap anak bangsa, apalagi guru tentunya sangat mencintai negeri ini. 

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan para guru, berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah dan seluruh jajaran terkait untuk meminimalisir masalah guru dalam menenulis.

Bagi Guru Bahasa Indonesia

1.   Wajibkan untuk menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) jika ingin naik jenjang (PNS) atau naik gaji bagi guru swasta.
2.   Balai Bahasa wajibkan guru Bahasa Indonesia yang sudah terakreditasi untuk memiliki blog dan mengadakan lomba blog bagi guru di akhir semester.

Bagi Guru Indonesia

1.   Wajibkan mempunyai blog sebagai syarat profesional profesi guru era baru.
2.   Dinas pendidikan wajib mengadakan lomba blog bagi guru.

Demikian pandangan penulis tentang masalah guru Bahasa Indonesia dan guru bangsa secara keseluruhan. Salam@

Kesimpulan

1.   Opini yang baik adalah opini yang menawarkan solusi. Jadi menulis opini yang baik sertai dengan solusi praktis.
2.   Menulis opini sangat mudah. Anda cukup tahu masalah apa yang mau ditulis. Melihat kenyataan, kemudian menganalisis dampak yang akan terjadi. Cari literatur yang mendukung, dan terakhir hadirkan solusi yang bisa dilaksanakan. Itulah kontribusimu untuk Indonesia tercinta.

Catatan Tambahan:

Apa yang saya tulis hanyalah contoh, tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapa pun. Sekali lagi saya mohon maaf jika teman-teman merasa tersinggung.

Selanjutnya apabila teman-teman guru berminat untuk mengetahui startegi saya mengajarkan materi ini pada siswa-siswi di SMTK Bethel Jakarta maka silahkan baca lebih lanjut.


Menulis Opini Itu Sangat Mudah: Kisah dalam Kelas

Rekan guru dan sidang pembaca yang terhormat, pekan sebelumnya mungkin diantara para sahabat pernah membaca beberapa tulisan berikut:
1.   Pendidikan untuk hidup, bukan hidup untuk pendidikan.
2.   Rendahnya kualitas guru karena guru tidak sadar tugas dan panggilannya.
3.   Indonesia bukan hanya Jawa.
4.   Negara harus hadir untuk pendidikan yang lebih baik.

Di atas adalah beberapa judul opini anak murid yang kami didik di SMTK Bethel Jakarta.

Sebelum mereka berkarya, adalah tugas saya sebagai guru Bahasa Indonesia untuk ‘membekali’ mereka dengan teknik penulisan opini yang seharusnya ditulis. 

Berikut teknik menulis opini yang saya ajarkan kepada mereka (lihat gambar) 
Guru Bangsa Begini Cara Mengajari siswa Menulis Opini, Dilengkapi dengan sharing pengalaman Saat Mengajarkan Materi ini di SMTK Bethel Jakarta 
Struktur dari penulisan opini ada lima.
1.   Masalah
2.   Idealnya
3.   Fakta
4.   Permasalahan
5.   Solusi

Masalah

Secara sederhana masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara harapan dan kenyataan.

Contoh

Banjir di Jakarta.


Sampai di sini saya yakin sidang pembaca akan meragukan penjelasan saya karena yang dimaksudkan dengan kesenjangan antara harapan dan kenyataan tidak digambarkan secara jelas pada contoh yang saya sebutkan di atas. BANJIR DI JAKARTA. Supaya jelas simak bagian kedua berikut ini.

Idealnya

Idealnya atau sesuatu yang seharusnya terjadi.

Contoh:

Banjir di Jakarta.


1.   Seharusnya banjir tidak terjadi lagi karena pemerintah DKI Jakarta telah membangun waduk pluit dan beberapa tanggul di Jakarta. Misalnya di jembatan hitam, daerah Sunter, Jakarta Utara.
2.   Permasalahan banjir masih saja terjadi karena masyarakat masih saja membuang sampah di sungai.
3.   Akibatnya aliran sungai menjadi tersumbat sehingga menyebabkan BANJIR KEMBALI TERJADI.

Demikian yang saya maksudkan dengan permasalahan adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Seharusnya seperti ini tetapi kenyataannya berbeda.

***

Jadi pertama-tama saya meminta anak-anak untuk melihat permasalahan yang terjadi di sekitar mereka. Alasannya mereka tidak akan bisa menulis jika tidak ada persoalan yang mau dibahas.

Langkah kedua saya minta mereka menganalisis, mengapa hal itu sampai terjadi?

Di bagian ini harus saya katakan bahwa saya mengalami kesulitan karena dasar argumentasi yang dihadirkan oleh siswa terlalu sederhana untuk menulis opini yang mempengaruhi dan mengubah cara pandang pembaca.

Solusinya saya minta mereka mencari literatur yang terkait dengan topik dan membaca sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan gambaran umum dari topik yang dibahas.

Perlahan-lahan ada perubahan. Dibimbing dan diberi contoh kongkrit akhirnya anak-anak pun bisa.

Baiklah kita lanjutkan ke bagian yang ketiga

Permasalahan

Bagian ini saya meminta anak-anak untuk menganalisis, jika masalah kestidaksadaraan warga untuk membuang sampah pada tempatnya apa yang nanti akan terjadi?.

Bagian ini anak-anak luar biasa, cerdas. Ada yang mengatakan Jakarta akan tenggelam, ada yang mengatakan aktifitas terganggu dan lain sebagainya.

Setelah itu saya minta mereka menuliskan apa yang mereka katakan, “ya sekarang tulislah apa yang anda sampaikan tadi”.

Apa jawaban anak-anak?

Adu pak susah, ga bisa, iya pak saya sudah tahu tapi nulisnya susah dan berbagai alasan yang lain.

Bagian ini saya agak memaksa anak-anak.
“Pokoknya saya tidak mau tahu jika tidak menulis kalian tidak boleh istirahat”.
Jadi yang selesai silakan istirahat dan yang belum terima resiko karena saya tidak akan memberikan waktu istirahat.

Dan itu saya lakukan.

Ya saya sadar agak kejam dan metodenya mungkin salah. Tetapi lihatlah hasilnya di sini
***

Keesokan harinya di depan kelas saya sampaikan tulisan si A bagus akhirnya saya muat dan itu direspon dengan sangat baik oleh teman-teman blogger. (saya tunjukan komentarnya).

***

Bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia tahu apa yang terjadi, anak-anak sangat girang dan motivasi menulisnya meningkat.

“Adu pak seriusan teman bapak ngomong seperti ini”, uuuh lope-lope dan berbagai ekspresi pun muncul di ruang kelas.

Penting!!
1.   Saat bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia menyampaikan ini layak dipublikasikan. Selanjutnya perlu dijelaskan mengapa layak, dan itu harus logis penjelasannya. Beri bukti dan contoh kongkrit.

2.   Jika yang tidak dipublikasikan, tunjukan di mana letak kesalahannya dan memperbaikinya seperti apa?

3.   Terkait nomor dua, mohon jangan marahi mereka, tepuklah pundak mereka dan katakan INI SUDAH BAGUS, TETAPI AKAN LEBIH BAIK LAGI JIKA TAMBAHKAN INI....atau kurangi ini.

Jangan lupa mengapa seperti itu harus dijelaskan dengan logis.
4.   Terkait poin ketiga jika si anak sudah memperbaiki, apa pun kekurangannya abaikan dan harus komitmen untuk mempublikasikan tulisan tersebut di blog. Jika ini dilakukan maka anak-anak akan respek sama kita bapak dan ibu guru.

5.   Jika lakukan poin ketiga dan keempat percayalah perubahan akan terjadi (Maaf tidak menggurui hanya berbagi saja)

Kesalahan guru adalah kurangnya menjelaskan MENGAPA dan kurang memberi solusi praktis.
***

Mari kita lanjutkan pada struktur menulis opini yang terakhir berikut ini;

Solusi

Bagian ini saya berikan sugesti rohani (kebetulan saya nasrani).

Penjelasan soal pelajaran dengan materi menulis opini saya hentikan sebentar.
“Baiklah anak-anak ambil gitar dan kita menyanyi”
“Ah seriusan menyanyi” tanya salah seorang murid dengan heran.
“Yups serus bro” jawab saya dengan gaya milenial.

Berikut lirik lagu yang kami nyanyikan.

Hidup Harus Menjadi Berkat 

Pdt. D Surbakti


Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat

Reff
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup sudah jadi berkat
Catatan: bisa lihat lagunya di Youtube


Setelah menyanyi saya katakan kepada anak-anak seperti ini.

“Anak-anak untuk menjadi berkat” tidak perlu pergi jauh-jauh ke ujung dunia dan melayani orang miskin”. Jika itu terjadi “Puji Tuhan” kata saya.
Namun untuk saat ini dan di sini kalian pun bisa Tuhan pakai untuk menjadi berkat lewat menulis. Sunyi seisi ruangan.
Kemudian saya lanjutkan kalian bisa menjadi berkat dengan menulis. Caranya memberikan solusi praktis agar orang yang membaca tulisanmu langsung menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian saya menyuruh mereka menuliskan solusinya. Hasilnya seperti ini (klik dan lihat) 

Demikian cerita saya mengajar materi menulis opini di depan kelas. 

Adakah kritik dan saran untuk perbaikan lebih lanjut?, silahkan disampaikan melalui face book kaka guru.

Salam damai dan tetap semangat guru bangsa, #banggajadiguru.


Martin Karakabu


Guru Kampung

Baca juga:


Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis