Minggu, 17 Maret 2019

Refleksi 73 Tahun Indonesia Merdeka oleh David Benyamin siswa SMTK Bethel Jakarta

Refleksi 73 Tahun Indonesia Merdeka oleh David Benyamin siswa SMTK Bethel Jakarta
17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Bebas dari penjajah, dan berdiri sebagai negara yang berdaulat.

Jumat, 17 Agustus 2018 peristiwa bersejarah itu dikenang kembali oleh seluruhmasyarakat Indonesia.

Artinya telah 73 tahun negara kita merdeka dan berdiri sebagai suatu negara yang demokratis.

Kebebasan yang diraih bukanlah tanpa pengorbanan. Ratusan nyawa bersimbah darah, ratusan anak kehilangan ayah.
Ribuan istri rela menjanda hanya sebuah kata, “merdeka”. Namun pengorbanan para pahlawan 73 tahun yang lalu dapat dikatakan “tidak berarti”, bila melihat fakta saat ini.
1.   Anak muda Indonesia yang tidak menghargai jasa para pahlawan.

2.   Banyak anak muda Indonesia yang tidak mau berkorban bagi negaranya.

3.   Banyak anak muda Indonesia kehilangan semangat juang seperti para pahlawan kita di masa lampau.
Apakah ini hanya opini seorang anak SMA?
Atau mungkin ada yang mengatakan seperti ini;
 “Ne anak so tahu amat ya”,
 “Banyak ya anak muda Indonesia yang masih peduli.

Baca Juga: 


Baiklah saya tidak ingin menghadirkan polemik kehadapan sidang pembaca yang terhormat.Tetapi mengajak pembaca untuk melihat data berikut ini.

Kasus Kejahatan di DKI tahun 2016

No
Nama Kasus
Jumlah
1
Pencurian dan pembaretan
3.187 Kasus
2
Pencurian kendaraan bermotor
2.866 Kasus
3
Pencurian dengan kekerasan
719 Kasus
4
Penganiayaan berat
1. 153 Kasus
5
Pembunuhan
71 Kasus
6
Judi
422 Kasus
7
Pemerasan disertai dengan ancaman
375 Kasus
8
Pemerkosaan
67 Kasus
9
Narkotika
5.333 Kasus
10
Kenakalan Remaja
5 Kasus

Sumber                        : Kompas, edisi 29-12-2016
Ditulis oleh                  : Nibras Nada Nailufar

Total kejahatan yang terjadi selama 2016 meningkat dari 43.149 pada 2015 menjadi menjadi 44.304 pada tahun 2016.

Peningkatan lebih kurang tiga persen. Tercatat, ada 10 jenis kasus yang menonjol pada tahun 2016 lalu.

Terkait kenakalan remaja, dilansir dari websaid resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Tahun 2014 tercatat ada 67 kasus kekerasan yang melibatkan anak sebagai pelaku kekerasan.

Setahun kemudian meningkat menjadi 79 kasus kekerasan, yang pelaku utamanya adalah anak dan remaja.
Sedangkan kasus tawuran antar pelajarpun mengalami peningkatan. Tahun 2014 ada 46 kasus, setahun kemudian yakni 2015 meningkat menjadi 103 kasus.

Kejadian yang ironis ini tidak lepas dari pengaruh orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar anak-anak muda yang demikian.

Baca:



Orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun pola pikir dan karakter anak muda Indonesia. Apa yang ditanam dimasa kecil akan sangat berdampak dimasa muda seseorang.

Artinya, apabila orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar bekerja sama memegang peran untuk membentuk karakter anak muda Indonesia dengan baik, akan sangat sedikit peristiwa-peristiwa ironis yang terjadi.

Tetapi, apabila orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar tidak dapat bekerja sama dengan baik dalam membentuk karakter anak muda Indonesia, besar kemungkinan banyak anak muda Indonesia yang mengikuti pergaulan buruk dengan teman sebayanya.

Baca:



Sebagai penulis, saya hanya dapat menyarankan kepada beberapa pihak yang terkait tentang perkembangan anak muda agar bisa bekerja sama mencetak anak-anak muda Indonesia yang berkualitas baik dan memiliki karakter yang baik juga.

Orang tua harus terus mendidik secara tegas anak-anak yang dilahirkannya.

Orang tua tidak boleh melepas tanggung jawab yang telah Tuhan berikan selama orang tua hidup di dunia ini, yaitu bertanggung jawab mendidik anaknya.
Demikian juga halnya dengan sekolah.
Sekolah wajib menumbuhkan pengetahuan dan memajukan pola pikir siswa-siswi yang ada kearah yang lebih baik lagi.

Selain dari intelektual, sekolah juga harus membina secara karakter siswa-siswi, sebab tanpa karakter yang baik pengetahuan yang maju tidak akan dapat digunakan secara baik.
Selain orang tua dan sekolah, pemerintah juga tidak kalah penting dalam menjalankan peranan untuk membangun kualitas anak-anak muda Indonesia.
Pemerintah dapat memberikan sekolah gratis kepada seluruh anak-anak di Indonesia, membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda yang pengangguran, serta membantu anak-anak muda Indonesia untuk meraih cita-cita mereka.

Peranan penting pemerintah juga dapat mendukung perkembangan kualitas anak muda Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.

Tetapi kita tidak bisa memandang sebelah mata beberapa anak muda Indonesia yang berprestasi.

Meskipun jumlah mereka yang berprestasi tidak terlalu banyak, tetapi orang-orang demikianlah yang patut kita apresiasi.

Anak-anak muda Indonesia yang berprestasi antara lain adalah sebagai berikut.

1.   Timnas Sepak Bola Indonesia U-16 yang baru saja menjuarai AFF U-16 di Indonesia.

2.   Kevin Sanjaya dan Markus Gideon yang menjadi atlet bulutangkis (ganda putra) yang pernah meraih berbagai gelar juara internasional.

3.   Lalu Muhammad Zohri yang meraih medali emas dan menjadi juara dunia pada Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.

4.   dan masih banyak lagi anak muda Indonesia lainnya yang berprestasi.

Jadi, marilah segenap anak muda Indonesia untuk mengingat perjuangan para pahlawan kita (salah satunya adalah terbentuknya Sumpah Pemuda yang terbentuk di tahun 1928); sehingga kita memiliki semangat juang yang tinggi terhadap kemajuan bangsa Indonesia dan menjadi anak-anak muda Indonesia yang berkualitas tinggi.
Mari bersama membangun bangsa dengan semangat muda.

Kita Bineka Kita Indonesia. (David Benyamin. M/Siswa kelas XII SMTK Bethel Jakarta).


Baca Indonesia Melawan Narkoba oleh Amanda Pattinama Siswi SMTK Bethel Jakarta.

Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis