Jumat, 15 Maret 2019

Rendahnya Kualitas Guru Karena Guru Tidak ‘Sadar’ Tugas dan Panggilannya sebagai Guru Oleh Catrina Claudia Lumbanraja Siswi kelas X SMTK Bethel Jakarta

Rendahnya Kualitas Guru Karena Guru Tidak ‘Sadar’ Tugas dan Panggilannya sebagai Guru Oleh Catrina Claudia Lumbanraja Siswi kelas X SMTK Bethel Jakarta
William Arthur Ward, seorang penulis inspirasional pernah berkata, guru biasa-biasa saja hanya bisa menceritakan, guru yang baik mampu menjelaskan, guru yang unggul mampu menunjukan, semantara guru yang hebat bisa memberi inspirasi. 

Pertanyaan sekarang bagaimana bisa memberi inspirasi jika kondisinya sebagai berikut:

Rata-rata guru mengajar lebih dari 1 bidang studi dan terkadang bukan keahlian bidang guru tersebut. 

Semantara presentase kelayakan mengajar yang ideal sebagai berikut:

Jenjang Pendidikan


Presentase menurut kelayakan mengajar

  • SD Negeri

  • 21,07%

  • SD Swasta

  • 28,94%

  • SMP Negeri

  • 54,12%

  • SMP Swasta

  • 60,99%

  • SMA Negeri

  • 65,29%

  • SMA Swasta

  • 64,73%

  • SMK Negeri

  • 55,49%

  • SMK Swasta

  • 58,26%

Sumber data: Balitbang Depdiknas

Masih dari data yang sama, Balitbang Depdiknas menunjukkan hanya 13,8% yang berpendidikan diploma (D2 kependidikan ke atas), penjabarannya sebagai berikut:

  • Dari sekitar 680 ribu guru SLTP/MTs baru 38,3% yang berpendikan diploma, (D3-kependidikan ke atas).
  • Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas.
  • Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendididkan S2 ke atas (3,48% pendidikan S3).


Baca Juga

  1. Dosen PBSID Uncen: Mendidik dengan Hati Membuat Calon Guru Menjadi Berarti
  2. Tahu Diri, Tahu Waktu, dan Tahu Tempat: Refleksi untuk Kita yang Disebut Guru


Masalah lainnya yaitu ;


Jumlah guru yang masih kurang


Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yang tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu ruang kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik.

Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.

Banyaknya guru yang tidak dapat mengajar


Banyak guru saat mengajar terlalu cepat tidak dapat dimengerti dan selalu berpatokan pada buku. Oleh karena itu, timbulah kesan malas dari anak anak murid,  sehingga anak murid menjadi mengantuk dan tidak mendapatkan apa apa.

Ketidakpeduliannya guru


Banyak guru yang tidak peduli jika anak muridnya tidak mendengarkan penjelasan dari guru tersebut, banyak juga guru yang malas untuk mengajar sehingga banyak pelajaran yang tertinggal, dan banyak juga guru yang tidak peduli saat anak muridnya mencontek sehingga membuat integritas anak menjadi jelek.

Sedangkan fakta profesionalitas profesi guru menurut UUD pasal 39 UU No 20/2003 yakni menjalankan tugasnya sebagai berikut:
1.   Merencanakan pembelajaran,
2.   Melaksanakan pembelajaran,
3.   Menilai hasil pembelajaran,
4.   Melakukan pembimbingan,
5.   Meakukan pelatihan,
6.   Melakukan penelitan dan
7.   Melakukan pengabdian masyarakat.
***
Di sisi yang lain presiden Joko widodo juga memberikan gaji kepada guru tepat waktu, sehingga guru harus mengajar tanpa memperlambat waktu untuk masuk kelas, dan presiden Jokowi telah menetapkan peraturan tentang bidang pendidikan dan kebudayaan, yaitu UU NO 3 tahun 2017 tentang budaya literasi dan intlektualitas guru di sekolah dalam bentuk buku.

Literasi yang baik merupakan salah satu ciri bangsa yang cerdas, dan masyarakat mampu memaknai dan memanfaatkan informasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. 

Hal ini sesuai dengan PP NO 74 tahun 2008;  yang diperbaharui menjadi PP No 19 tahun 2017 tentang pendidik profesional yang komprehensif. Idealnya guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah harus mengacu pada peraturan pemerintah tersebut.

Walaupun pak Presiden Jokowi memberikan gaji secara tepat, namun masih ada saja oknum guru yang bermalas malasan. 

Seperti tidak mengajar di kelas dan hanya memberikan tugas padahal ia tidak memiliki kesibukkan, dan juga UU yang telah diatur masih saja dilanggar.

Banyak guru yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada mengajar, dan lebih banyak guru yang hanya ingin menerima gaji tanpa mengajar dan masih tidak peduli apapun yang dilakukan muridnya, karena kebanyakan guru hanya mengajar akademik tetapi tidak memperhatikan karakter padahal yang lebih penting adalah bagaimana karakter.

Maka dari itu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru adalah dengan cara :

  • Menyediakan beasiswa bagi guru yang mengajar untuk meningkatkan kualitas mengajar dari guru tersebut.

  • Membagi guru secara merata keseluruh Indonesia.

  • Biarkan guru bisa fokus pada satu bidang yang benar-benar kemampuan dari guru tersebut.

  • Memberi pengajaran kepada guru bahwa pendidikan karakter lebih penting.

  • Diperlukan adanya pelatihan guru untuk memperbaiki kinerja guru dalam menigkatkan kegiatan belajar mengajar dalam kelas.

  • Pemerintah perlu memperketat persyaratan untuk menjadi calon guru pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan.


Kesimpulannya:


  • Jangan mengharapkan Indonesia akan maju jika sektor pendidikan dan guru sebagai pioner terdepan tidak bekerja sesuai tugas dan panggilan seorang guru.
  •  Murid hebat adalah gambaran dari kualitas guru.
  • Puluhan tahun menjadi guru namun tetap menerapkan pola lama puluhan kali hanya akan membuat murid tidak bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jika itu yang terjadi apakah Indonesia akan menjadi lebih baik?

Catrina Claudia Lumbanraja hanyalah seorang pelajar kelas X yang ingin belajar dengan baik. Terima kasih guruku, darimu saya belajar banyak hal. Saya ingin engkau mengajar saya dengan baik. Guruku pelitaku –Claudia-


Catatan Admin


  • Di atas adalah opini seorang anak SMA kelas X di SMTK Bethel Jakarta.


  • Pandangannya tentang pendidikan tidak diubah sustansi apa pun. Admin hanya memperbaiki beberapa kata dan kalimat, termasuk cara membahasakan data-data agar mudah dipahami maksud si penulis.


  • Tulisan ini dibuat sebagai tugas sekolah, sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum 2013 tentang literasi nasional. Ini adalah cara kami mendukung program literasi nasional yang diamanatkan dalam kurikulum 2013.

Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis