Kamis, 14 Maret 2019

Wynne Gabriella Siswi SMA Kanaan Jakarta Melihat Sisi Lain dari Kehidupan Jakarta Melalui Kegiatan Field Trip

Wynne Gabriella Siswi SMA Kanaan Jakarta Melihat Sisi Lain dari Kehidupan Jakarta Melalui Kegiatan Field Trip
Gambar ilustrasi
Perjalanan dimulai dari Sekolah Kristen Kanaan Jakarta. Setelah renungan pagi, tim saya yang terdiri dari Annie, Sisca, Desi, Michael, dan Pak Julianto siap memulai perjalanan panjang kami menelusuri kota Jakarta. Rencana awal kami berangkat tepat saat renungan pagi selesai, namun karena Annie harus berkunjung ke dokter, kami terlambat setengah jam dari rencana.

07.30 pagi kami berjalan ke arah Jalan Gunung Sahari untuk mencari kendaraan menuju destinasi pertama kami, yaitu Sunda Kelapa. Kami tidak berjalan sendirian, ada 4 kelompok lain bersama kami.

Suasana sepanjang jalan sangat ramai, kendaraan bermotor banyak yang berlalu lalang, banyak ibu-ibu yang menenteng belanjaan mereka karena memang kami melewati sebuah pasar kecil di tepi kereta.

Di sini saya melihat sisi pagi Jakarta yang tidak kalah ramai dari waktu-waktu lain.
           
Kami menaiki metromini P 02 ke arah destinasi pertama yang akan ditujuh. Di dalam metromini, kami berdesak-desakan dengan 2 kelompok yang satu destinasi dengan kami juga para penumpang lain.

Saat akan mengambil gambar untuk tugas Vlog kami, ada seorang ibu-ibu yang kebetulan duduk di belakang saya memperingatkan untuk berhati-hati akan pencopet.

Saya belajar sesuatu dari hal ini, bahwa penjustifikasian saya akan orang Jakarta yang sangat individualistik dan mementingkan diri sendiri ternyata tidak sepenuhnya benar. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan orang-orang yang berada didekatnya.
           
Baca juga: Catatan Waktu SMA

Sesampainya kami di Sunda Kelapa, Saya melihat betapa gersangnya daerah itu, semua sudah dibeton dan hanya terdapat kapal-kapal kayu dengan debu bertebangan dimana-mana.

Awalnya kami tidak diperbolehkan masuk ke wilayah yang lebih jauh lagi dikarenakan belum izin dan hari itu merupakan hari kerja.

Setelah Pak Iwan, pembina kelompok sebelah yang bersama kami, meminta izin dari perusahaan di Sunda Kelapa, akhirnya kami diperbolehkan masuk.

Kami bertemu turis asing dari Wallace dan sempat mewawancarai mereka. Dari hasil wawancara singkat kami diketahui bahwa mereka datang untuk melakukan research.

Sebelum meninggalkan kawasan Sunda Kelapa, kami menyempatkan diri menaiki sampan atau perahu kecil yang membawa kami berkeliling laut yang ada di sekitar Sunda Kelapa. Sepanjang perjalanan, bapak tua yang membawa kami menelusuri perairan itu bercerita banyak hal, mulai dari keadaan Sunda Kelapa zaman dahulu hingga kejadian Mei 1998 di daerah itu, sampai keadaan Sunda Kelapa saat Jakarta di pimpin oleh Bapak Ahok.

Saat perjalanan pulang ke pelabuhan awal, Saya menyadari banyak sekali sampah mulai dari kardus minuman sampai hajat manusia yang ada di permukaan air. Dari kisah sang bapak tua, Saya menyadari betapa hebatnya perubahan yang alami oleh Sunda Kelapa.

Saya menyadari betapa berharganya rekan atau teman seperjuangan yang pernah bersama-sama dengan kita, betapa berharganya sebuah pertemanan.

Puas berkeliling Sunda Kelapa, kami menuju destinasi kedua yaitu Wisata Alam Hutan Mangrove yang ada di daerah PIK. Lokasi ekowisata ini ada dibelakang Tzuci Primary School dan sangat luas.

Untuk kalian yang suka berfoto, tempat ini menyediakan spot-spot bagus untuk berfoto.Dengan biaya Rp 25.000,- per orang, kami berjalan menelusuri hutan tengah kota tersebut.

Saya menyadari satu hal saat berada di tempat ini. Saya merasa miris saat melihat sekeliling saya terdapat banyak pohon rindang, namun di sela-sela pohon tersebut muncul sebuah bangunan yang sedang dalam konstruksi. Saya sangat berharap hutan ini tetap dilestarikan karena sangat sulit untuk menemukan tempat seperti ini di Jakarta kita yang sudah penuh dengan hiruk pikuk kota metropolitan.
           
Destinasi ketiga kami adalah Museum Nasional yang terletak di sekitar Monas, tepatnya di depan halte Transjakarta Monas.

Menginjakkan kaki di pelataran museum, kami di sambut sebuah monumen atau patung yang sangat artristik.

Setelah membayar Rp 2.000,- untuk kami ber 5 dan Rp 5.000,- untuk Pak Jul, kami masuk kedalam gedung museum dan disambut oleh sekelompok wanita yang sedang berlatih bermain musik khas Indonesia dengan gamelan, gending, dan sebagainya. Usia mereka rata-rata memang sudah tampak tua, namun kami menemukan beberapa wanita seusia kami, alias masih siswi sekolah.

Saya juga belajar sesuatu tentang remaja dan ke Indonesiaan.

Bahwa masih ada pelajar yang peduli dan mau belajar serta melestarikan kebudayaan bangsanya.

Di tengah generasi muda yang semakin senang dengan kebudayaan barat atau asing dibanding kebudayaannya sendiri, ternyata masih ada yang mau melestarikan. Jujur saya merasa malu saat melihat mereka latihan, sehingga saya cepat-cepat pergi dari hadapan mereka.
          
Di dalam museum terdapat 4 lantai pameran, namun kami hanya menelusuri sampai lantai 3. Saya mendapati benda-benda bersejarah yang bahkan tidak saya tahu dan tidak saya dapati di pelajaran sejarah, seperti prasasti-prasasti, kompas masa lampau, fosil kerangka manusia yang hidup di zaman mesolitikum, dan masih banyak lagi. Kami berhenti menelusuri dikarenakan hari yang sudah sore dan kami semua sudah lapar serta lelah.

Awalnya kami memutuskan untuk pulang dengan moda transportasi online, namun setelah di tolak 3 kali dan sempat berargumen dengan pengendara online tersebut, kami pulang dengan Transjakarta dari halte Monas. Dari halte Monas, kami menuju halte Senen Sentral, di sinilah Pak Jul dan Michael memutuskan untuk turun dan pulang dengan bajaj. Tersisa kami ber 4, kami melanjutkan perjalanan pulang. Setelah mengantarkan Annie dan Desi, saya dan Sisca menunggu bus di halte Mangga Dua.

Di sana kami berbincang dengan seorang engko-engko tentang kejahatan yang ada di halte Transjakarta. Ia memperingatkan kami untuk selalu menaruh tas di depan kami dan jangan bermain handphone di halte, ia membeberkan semua modus kejahatan yang terjadi di halte. Saya bersyukur karena mendapat informasi yang penting dan berguna untuk saya.
           
Sepanjang perjalanan field trip ini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu dan pembelajaran hidup yang tidak saya dapatkan di sekolah. Saya melihat sisi lain Jakarta yang identik dengan polusi dan macet.

Jakarta itu indah, tinggal bagaimana kita mau melihat sisi lain dari kota ini dan melestarikannya. (FIELDTRIP 12/05/2017. Wynne G – X MIA SMA Kanaan Jakarta)
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
Artikel Berikutnya Next Post
Artikel Sebelumnya Previous Post
 

Gratis